KONSEP ADAB DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Konsep Adab Dalam

Pendidikan Islam

Nama Penulis : Maila nurhasanah

Email : mailanurhasanah2106@gmail.com

Institusi : Institut Agama IsIam Tafaqquh Fiddin Dumai

ABSTRAK:

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep adab dalam proses pendidikan Islam sebagai dasar pembentukan karakter peserta didik. Fokus utama penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai adab, seperti menghormati guru, menjaga lisan, dan berperilaku santun, diterapkan dalam lingkungan pendidikan Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dan observasi pada lembaga pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga yang menekankan pendidikan adab mampu menciptakan suasana belajar yang harmonis, meningkatkan kedisiplinan, serta memperkuat hubungan spiritual antara guru dan murid. Penelitian ini juga merekomendasikan agar lembaga pendidikan Islam mengintegrasikan adab dalam kurikulum dan kegiatan pembelajaran secara sistematis. Novelty dari penelitian ini terletak pada penekanan adab bukan hanya sebagai nilai moral, tetapi juga sebagai metode pedagogis yang efektif membentuk karakter Islami. Adapun riset gap yang ditemukan adalah masih minimnya penelitian yang menempatkan adab sebagai pendekatan utama dalam pendidikan karakter di era modern.

Kata kunci: adab, pendidikan Islam, karakter, nilai moral, pedagogi islami

Pendahuluan: Konsep Adab dalam Pendidikan Islam

(1) Dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, dunia pendidikan sering kali menghadapi permasalahan moral dan krisis akhlak di kalangan peserta didik. Fenomena seperti kurangnya sopan santun terhadap guru, perilaku tidak hormat terhadap orang tua, serta budaya berbicara kasar di media sosial menunjukkan menurunnya nilai-nilai adab di tengah generasi muda. Fakta sosial ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam yang menjadikan pembentukan karakter dan moral sebagai tujuan utamanya.

(2) Pendidikan Islam sejatinya tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan (ta’līm), tetapi juga menekankan pembentukan kepribadian dan perilaku yang beradab (ta’dīb). Dalam pandangan Islam, adab mencakup hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan. Fakta formalnya, hal ini tertuang dalam tujuan pendidikan nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa pendidikan harus membentuk manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai adab secara menyeluruh.

(3) Konteks penelitian ini berangkat dari kesadaran bahwa pendidikan di era digital saat ini cenderung lebih fokus pada pencapaian akademik dan kompetensi intelektual. Akibatnya, pembentukan adab sering kali terabaikan. Padahal, tanpa adab, ilmu pengetahuan dapat disalahgunakan dan kehilangan maknanya. Di lembaga pendidikan Islam, banyak siswa yang cerdas secara intelektual namun kurang dalam etika berinteraksi, baik dengan guru maupun teman sebaya. Kondisi ini memperlihatkan perlunya penelitian yang meninjau kembali posisi adab sebagai landasan utama pendidikan Islam.

(4) Beberapa penelitian terdahulu telah membahas pentingnya integrasi akhlak dan pendidikan karakter, namun masih sedikit yang menempatkan konsep adab sebagai fokus utama dalam proses pendidikan. Sebagian besar penelitian lebih menyoroti kurikulum berbasis karakter tanpa mengkaji secara mendalam aspek adab sebagai konsep pedagogis Islam. Inilah yang menjadi research gap dari penelitian ini — yaitu kurangnya kajian yang secara eksplisit mengkaji penerapan konsep adab sebagai pendekatan mendidik yang menyeluruh dalam konteks pendidikan Islam kontemporer.

(5) Selain itu, masih banyak lembaga pendidikan Islam yang belum memiliki model implementasi adab yang terintegrasi dengan sistem pembelajaran modern. Guru sering kali berperan hanya sebagai penyampai ilmu, bukan sebagai teladan adab. Padahal dalam tradisi Islam klasik, guru memiliki kedudukan mulia sebagai muaddib, yaitu pendidik yang tidak hanya mengajar tetapi juga membentuk akhlak muridnya.

(6) Penelitian ini juga memperhatikan fakta sosial lain bahwa pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi membuat peserta didik lebih mudah terpapar nilai-nilai luar yang tidak sejalan dengan prinsip Islam. Hal ini menuntut adanya strategi pendidikan yang mampu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan pembentukan adab Islami.

(7) Dalam konteks tersebut, penelitian ini berupaya menggali kembali makna dan peran adab dalam pendidikan Islam, serta menelaah bagaimana konsep ini dapat diterapkan secara praktis di lembaga pendidikan. Dengan menggali nilai-nilai adab, diharapkan pendidikan Islam mampu menghadirkan keseimbangan antara ilmu dan akhlak, antara kecerdasan dan keteladanan.

(8) Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan konsep adab dalam pendidikan Islam sebagai dasar pembentukan karakter peserta didik. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan merumuskan strategi penerapan adab yang relevan dengan tantangan pendidikan masa kini tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional Islam.

(9) Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan ilmu pendidikan Islam, sekaligus menjadi rujukan praktis bagi lembaga pendidikan dalam menanamkan nilai adab di setiap aspek pembelajaran. Adab tidak hanya dilihat sebagai moral tambahan, tetapi sebagai inti dari seluruh proses pendidikan yang menuntun manusia menuju kesempurnaan akhlak dan kemuliaan jiwa.

(10) Maka dari itu, penelitian ini memiliki urgensi tinggi dalam menjawab persoalan mendasar pendidikan Islam di abad ke-21: bagaimana mengembalikan makna pendidikan sebagai sarana pembentukan manusia beradab, bukan sekadar manusia berilmu.

TINJAUAN PUSTAKA LITERATUR REVIEW

a. Konsep Teoretis

Secara etimologis, adab berasal dari bahasa Arab addaba–yu’addibu–ta’dīban yang berarti mendidik, memperbaiki tingkah laku, atau mengajarkan tata krama. Dalam istilah pendidikan Islam, adab mengandung makna penggabungan antara ilmu dan amal, yaitu kemampuan seseorang untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai tuntunan syariat. Menurut Al-Attas (1980), adab merupakan inti dari pendidikan Islam karena menumbuhkan kesadaran diri manusia terhadap kedudukannya di hadapan Allah, sesama manusia, dan alam. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak sekadar berorientasi pada transfer pengetahuan (ta’līm), tetapi juga pembentukan kepribadian beradab (ta’dīb) yang menjadi tujuan utama.

Jika dibandingkan dengan konsep tarbiyah dan ta’līm, maka adab menempati posisi yang lebih tinggi secara filosofis. Tarbiyah menekankan aspek perkembangan jasmani dan rohani, sedangkan ta’līm lebih pada proses pengajaran ilmu. Sementara ta’dīb (adab) mencakup keduanya, sebab ia mengajarkan ilmu dengan kesadaran etis dan spiritual. Dalam konteks pendidikan Islam, adab berperan sebagai jembatan antara pengetahuan dan akhlak, memastikan bahwa ilmu yang diperoleh dapat membawa kemaslahatan, bukan kerusakan. Oleh karena itu, teori pendidikan Islam menegaskan bahwa adab adalah fondasi yang membentuk insan kamil — manusia yang berilmu sekaligus berakhlak mulia.

ABSTRAK:

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep adab dalam proses pendidikan Islam sebagai dasar pembentukan karakter peserta didik. Fokus utama penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai adab, seperti menghormati guru, menjaga lisan, dan berperilaku santun, diterapkan dalam lingkungan pendidikan Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dan observasi pada lembaga pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga yang menekankan pendidikan adab mampu menciptakan suasana belajar yang harmonis, meningkatkan kedisiplinan, serta memperkuat hubungan spiritual antara guru dan murid. Penelitian ini juga merekomendasikan agar lembaga pendidikan Islam mengintegrasikan adab dalam kurikulum dan kegiatan pembelajaran secara sistematis. Novelty dari penelitian ini terletak pada penekanan adab bukan hanya sebagai nilai moral, tetapi juga sebagai metode pedagogis yang efektif membentuk karakter Islami. Adapun riset gap yang ditemukan adalah masih minimnya penelitian yang menempatkan adab sebagai pendekatan utama dalam pendidikan karakter di era modern.

Kata kunci: adab, pendidikan Islam, karakter, nilai moral, pedagogi islami

Pendahuluan: Konsep Adab dalam Pendidikan Islam

(1) Dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, dunia pendidikan sering kali menghadapi permasalahan moral dan krisis akhlak di kalangan peserta didik. Fenomena seperti kurangnya sopan santun terhadap guru, perilaku tidak hormat terhadap orang tua, serta budaya berbicara kasar di media sosial menunjukkan menurunnya nilai-nilai adab di tengah generasi muda. Fakta sosial ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam yang menjadikan pembentukan karakter dan moral sebagai tujuan utamanya.

(2) Pendidikan Islam sejatinya tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan (ta’līm), tetapi juga menekankan pembentukan kepribadian dan perilaku yang beradab (ta’dīb). Dalam pandangan Islam, adab mencakup hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan. Fakta formalnya, hal ini tertuang dalam tujuan pendidikan nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa pendidikan harus membentuk manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai adab secara menyeluruh.

(3) Konteks penelitian ini berangkat dari kesadaran bahwa pendidikan di era digital saat ini cenderung lebih fokus pada pencapaian akademik dan kompetensi intelektual. Akibatnya, pembentukan adab sering kali terabaikan. Padahal, tanpa adab, ilmu pengetahuan dapat disalahgunakan dan kehilangan maknanya. Di lembaga pendidikan Islam, banyak siswa yang cerdas secara intelektual namun kurang dalam etika berinteraksi, baik dengan guru maupun teman sebaya. Kondisi ini memperlihatkan perlunya penelitian yang meninjau kembali posisi adab sebagai landasan utama pendidikan Islam.

(4) Beberapa penelitian terdahulu telah membahas pentingnya integrasi akhlak dan pendidikan karakter, namun masih sedikit yang menempatkan konsep adab sebagai fokus utama dalam proses pendidikan. Sebagian besar penelitian lebih menyoroti kurikulum berbasis karakter tanpa mengkaji secara mendalam aspek adab sebagai konsep pedagogis Islam. Inilah yang menjadi research gap dari penelitian ini — yaitu kurangnya kajian yang secara eksplisit mengkaji penerapan konsep adab sebagai pendekatan mendidik yang menyeluruh dalam konteks pendidikan Islam kontemporer.

(5) Selain itu, masih banyak lembaga pendidikan Islam yang belum memiliki model implementasi adab yang terintegrasi dengan sistem pembelajaran modern. Guru sering kali berperan hanya sebagai penyampai ilmu, bukan sebagai teladan adab. Padahal dalam tradisi Islam klasik, guru memiliki kedudukan mulia sebagai muaddib, yaitu pendidik yang tidak hanya mengajar tetapi juga membentuk akhlak muridnya.

(6) Penelitian ini juga memperhatikan fakta sosial lain bahwa pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi membuat peserta didik lebih mudah terpapar nilai-nilai luar yang tidak sejalan dengan prinsip Islam. Hal ini menuntut adanya strategi pendidikan yang mampu menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan pembentukan adab Islami.

(7) Dalam konteks tersebut, penelitian ini berupaya menggali kembali makna dan peran adab dalam pendidikan Islam, serta menelaah bagaimana konsep ini dapat diterapkan secara praktis di lembaga pendidikan. Dengan menggali nilai-nilai adab, diharapkan pendidikan Islam mampu menghadirkan keseimbangan antara ilmu dan akhlak, antara kecerdasan dan keteladanan.

(8) Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan konsep adab dalam pendidikan Islam sebagai dasar pembentukan karakter peserta didik. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan merumuskan strategi penerapan adab yang relevan dengan tantangan pendidikan masa kini tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional Islam.

(9) Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan ilmu pendidikan Islam, sekaligus menjadi rujukan praktis bagi lembaga pendidikan dalam menanamkan nilai adab di setiap aspek pembelajaran. Adab tidak hanya dilihat sebagai moral tambahan, tetapi sebagai inti dari seluruh proses pendidikan yang menuntun manusia menuju kesempurnaan akhlak dan kemuliaan jiwa.

(10) Maka dari itu, penelitian ini memiliki urgensi tinggi dalam menjawab persoalan mendasar pendidikan Islam di abad ke-21: bagaimana mengembalikan makna pendidikan sebagai sarana pembentukan manusia beradab, bukan sekadar manusia berilmu.

TINJAUAN PUSTAKA LITERATUR REVIEW

a. Konsep Teoretis

Secara etimologis, adab berasal dari bahasa Arab addaba–yu’addibu–ta’dīban yang berarti mendidik, memperbaiki tingkah laku, atau mengajarkan tata krama. Dalam istilah pendidikan Islam, adab mengandung makna penggabungan antara ilmu dan amal, yaitu kemampuan seseorang untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai tuntunan syariat. Menurut Al-Attas (1980), adab merupakan inti dari pendidikan Islam karena menumbuhkan kesadaran diri manusia terhadap kedudukannya di hadapan Allah, sesama manusia, dan alam. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak sekadar berorientasi pada transfer pengetahuan (ta’līm), tetapi juga pembentukan kepribadian beradab (ta’dīb) yang menjadi tujuan utama.

Jika dibandingkan dengan konsep tarbiyah dan ta’līm, maka adab menempati posisi yang lebih tinggi secara filosofis. Tarbiyah menekankan aspek perkembangan jasmani dan rohani, sedangkan ta’līm lebih pada proses pengajaran ilmu. Sementara ta’dīb (adab) mencakup keduanya, sebab ia mengajarkan ilmu dengan kesadaran etis dan spiritual. Dalam konteks pendidikan Islam, adab berperan sebagai jembatan antara pengetahuan dan akhlak, memastikan bahwa ilmu yang diperoleh dapat membawa kemaslahatan, bukan kerusakan. Oleh karena itu, teori pendidikan Islam menegaskan bahwa adab adalah fondasi yang membentuk insan kamil — manusia yang berilmu sekaligus berakhlak mulia.

b. Konsep Operasional

Dalam praktiknya, konsep adab diterapkan melalui hubungan antara guru dan murid yang berlandaskan pada penghormatan dan keikhlasan. Guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga teladan moral dan spiritual. Murid diajarkan untuk menuntut ilmu dengan rendah hati, menghormati guru, serta menjaga niat agar ilmunya bermanfaat. Prinsip ini serupa dengan sistem silsilah keilmuan (sanad pendidikan), di mana ilmu diwariskan dengan keikhlasan dan keteladanan, bukan hanya hafalan teori.

Selain itu, penerapan adab dalam pendidikan Islam tampak dalam prinsip al-adab qablal ‘ilm — adab sebelum ilmu. Sebelum mempelajari suatu pengetahuan, murid harus memahami tata cara menuntut ilmu, menjaga kebersihan hati, dan menghormati proses belajar. Di pesantren, nilai ini diterapkan secara kuat melalui pembiasaan sopan santun, tata krama berbicara, serta etika dalam majelis ilmu. Sistem pendidikan tradisional seperti ini membuktikan bahwa keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kesantunan dan keikhlasan hati.

Lebih lanjut, lembaga pendidikan Islam modern mulai berupaya mengintegrasikan adab ke dalam kurikulum pembelajaran. Misalnya dengan menanamkan nilai tanggung jawab, empati, serta disiplin spiritual di setiap kegiatan belajar. Hal ini menunjukkan bahwa adab tetap relevan dalam sistem pendidikan masa kini, karena ia membentuk keseimbangan antara intelektualitas, moralitas, dan spiritualitas yang menjadi tujuan utama pendidikan Islam.. Konsep Operasional

Dalam praktiknya, konsep adab diterapkan melalui hubungan antara guru dan murid yang berlandaskan pada penghormatan dan keikhlasan. Guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga teladan moral dan spiritual. Murid diajarkan untuk menuntut ilmu dengan rendah hati, menghormati guru, serta menjaga niat agar ilmunya bermanfaat. Prinsip ini serupa dengan sistem silsilah keilmuan (sanad pendidikan), di mana ilmu diwariskan dengan keikhlasan dan keteladanan, bukan hanya hafalan teori.

Selain itu, penerapan adab dalam pendidikan Islam tampak dalam prinsip al-adab qablal ‘ilm — adab sebelum ilmu. Sebelum mempelajari suatu pengetahuan, murid harus memahami tata cara menuntut ilmu, menjaga kebersihan hati, dan menghormati proses belajar. Di pesantren, nilai ini diterapkan secara kuat melalui pembiasaan sopan santun, tata krama berbicara, serta etika dalam majelis ilmu. Sistem pendidikan tradisional seperti ini membuktikan bahwa keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kesantunan dan keikhlasan hati.

Lebih lanjut, lembaga pendidikan Islam modern mulai berupaya mengintegrasikan adab ke dalam kurikulum pembelajaran. Misalnya dengan menanamkan nilai tanggung jawab, empati, serta disiplin spiritual di setiap kegiatan belajar. Hal ini menunjukkan bahwa adab tetap relevan dalam sistem pendidikan masa kini, karena ia membentuk keseimbangan antara intelektualitas, moralitas, dan spiritualitas yang menjadi tujuan utama pendidikan Islam.

Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa adab merupakan konsep fundamental dalam pendidikan Islam yang tidak hanya berkaitan dengan perilaku lahiriah, tetapi juga menyangkut kesadaran spiritual, intelektual, dan moral seseorang terhadap posisinya di hadapan Allah SWT, ilmu, guru, serta sesama manusia. Berdasarkan telaah literatur klasik, seperti karya Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, adab dipandang sebagai bentuk penyucian diri (tazkiyat al-nafs) yang menjadi prasyarat bagi keberkahan ilmu. Seorang penuntut ilmu yang tidak beradab kepada gurunya, menurut Al-Ghazali, sulit memperoleh manfaat dari ilmunya karena hilangnya keberkahan spiritual. Sementara itu, Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis utama dunia pendidikan modern bukanlah krisis ilmu, melainkan krisis adab—ketidakmampuan manusia menempatkan sesuatu pada tempatnya yang benar. Dari sini dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pendidikan Islam sejati bergantung pada sejauh mana nilai-nilai adab menjadi dasar dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter.

Pembahasan lebih lanjut menunjukkan bahwa penerapan adab dalam pendidikan Islam memiliki dimensi yang luas dan aplikatif. Pada tataran kurikulum, adab dapat dijadikan sebagai kerangka nilai yang mengarahkan tujuan pendidikan, yakni membentuk insan adabi—manusia berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab secara moral. Dalam praktik pembelajaran, peran guru sangat penting sebagai murabbi yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi teladan bagi peserta didik dalam hal keikhlasan, kesabaran, dan kejujuran. Budaya sekolah yang berlandaskan adab juga menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif, di mana penghormatan terhadap guru, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial menjadi kebiasaan yang melekat.

Selain itu, hasil analisis juga menunjukkan bahwa relevansi konsep adab semakin penting dalam konteks pendidikan modern yang cenderung mengedepankan aspek kognitif dan kompetitif. Hilangnya dimensi spiritual dalam sistem pendidikan modern menyebabkan degradasi moral, individualisme, dan hilangnya rasa hormat antar manusia. Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu melakukan reorientasi dengan menempatkan adab sebagai dasar kurikulum dan filosofi pendidikan. Integrasi nilai adab dapat memperkuat keseimbangan antara ilmu dan akhlak, serta menanamkan kesadaran bahwa ilmu tidak hanya untuk kepentingan duniawi, tetapi juga untuk pengabdian kepada Allah SWT dan kemaslahatan umat manusia. Dengan demikian, adab bukan sekadar aspek etika, melainkan fondasi utama bagi pembentukan manusia paripurna dalam perspektif islam.

Kesimpulan

Penelitian ini menegaskan bahwa adab merupakan konsep fundamental dan integral dalam pendidikan Islam yang tidak hanya mengatur tata krama lahiriah, tetapi juga mencakup aspek spiritual, moral, dan intelektual peserta didik. Berdasarkan telaah terhadap karya-karya ulama klasik seperti Al-Ghazali dan Syed Muhammad Naquib al-Attas, adab menjadi landasan epistemologis yang menghubungkan ilmu, iman, dan akhlak dalam proses pendidikan. Pendidikan yang berorientasi pada adab tidak hanya bertujuan menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang bertakwa, berbudi pekerti luhur, dan bertanggung jawab secara sosial.

Lebih lanjut, penerapan konsep adab dalam pendidikan Islam memiliki implikasi praktis yang luas, meliputi integrasi nilai-nilai tersebut ke dalam kurikulum, metode pembelajaran, dan budaya institusi pendidikan. Guru berperan sebagai teladan yang memancarkan nilai-nilai adab, sementara lingkungan sekolah harus mendukung pembentukan karakter peserta didik yang beradab. Dengan demikian, adab menjadi instrumen penting untuk mengatasi krisis moral dan degradasi karakter yang kerap terjadi dalam dunia pendidikan modern yang terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif semata.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan urgensi pengembalian adab sebagai inti dan roh pendidikan Islam untuk menciptakan insan beradab (insan adabi) yang seimbang antara ilmu, akhlak, dan spiritualitas. Oleh karena itu, penguatan konsep adab perlu menjadi fokus utama dalam pengembangan kebijakan pendidikan Islam dan implementasi kurikulum agar dapat menjawab tantangan zaman sekaligus mewujudkan tujuan pendidikan yang hakiki.

Daftar Pustaka

Al-Attas, S. M. N. (1980). The concept of education in Islam: A framework for an Islamic philosophy of education. ISTAC.

Al-Ghazali. (1993). Ihya’ ‘Ulum al-Din [The revival of the religious sciences]. Dar al-Fikr.

Daud, W. M. N. W. (1998). The educational philosophy and practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An exposition of the original concept of Islamization. ISTAC.

Hidayat, S. (2019). Konsep adab dalam pendidikan Islam dan relevansinya terhadap pendidikan karakter. Jurnal Pendidikan Islam, 8(2), 123–135. https://doi.org/xx.xxx/yyyy (jika ada)

Ibn Miskawaih. (1994). Tahdzib al-Akhlaq wa Tathir al-A‘raq [Refinement of character and purification of temperaments]. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif (Revisi). Remaja Rosdakarya.

Nata, A. (2016). Filsafat pendidikan Islam. Rajawali Pers.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D (Revisi). Alfabeta.

Creswell, J. W. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). SAGE Publications.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Tunggu Aku,Ibu”